Riset

Riset adalah satu hal penting dalam tulisan, bahkan untuk radio sekalipun. Dengan riset, tulisan jadi bernas. Dengan riset, kita tak terlalu ‘terlena’ menyandarkan diri pada omongan narsum. Dengan riset, maka tulisan akan lebih berkualitas, sekaligus menunjukkan kelas kita sebagai penulis.

Riset tidak hanya soal dokumen, tapi juga soal observas, terutama untuk jurnalis radio. Observasi bisa menangkap apa yang terlihat dan apa yang terdengar, untuk kemudian disampaikan kepada pendengar. Riset observasi akan membuat tulisan makin utuh. Riset juga soal imajinasi, karena dengan pengetahuan dan wawasan yang cukup luas, kita bisa mengantisipasi. Antisipasi artinya siap dengan Plan A, Plan B sampai Plan Z kalau perlu.

Setiap orang adalah obyek riset. Bayangkan, ada berapa banyak riset yang bisa muncul dari seseorang. Riset tidak hanya berarti nama, tempat tanggal lahir, alamat, jenis kelamin dan usia; tapi riset juga bisa mengungkap kegiatan bisnis, telfon seluler yang dimiliki, dan sebagainya. Ini adalah riset, dan riset adalah informasi yang sangat berharga bagi kualitas tulisan.

Dalam jurnalistik, 1 persen adalah ide, sementara 99 persen sisanya adalah riset. Semakin banyak riset, tulisan akan semakin baik. Tapi, semakin banyak riset yang relevan, itu adalah yang paling baik.

Membangun Cerita

** Manusia

Cerita yang terbaik adalah cerita tentang manusia. Jangan ragu menggunakan manusia sebagai tokoh cerita.

Kebanyakan cerita hard news terkesan kering (soal korupsi, keuangan, dll). Tapi kehadiran manusia sebagai tokoh cerita bisa ‘menyegarkan’ cerita. Misalnya, dalam cerita tentang kenaikan harga BBM, Anda bisa memulai cerita dari keluarga miskin yang tak bisa lagi memberi anaknya makan tiga kali sehari. Ceriat akan jadi jauh lebih menarik.

Manusia juga jadi aktor protagonis dalam cerita, bukan si reporter/jurnalis. Gunakan tokoh protagonis-antagonis dalam membangun cerita.

** Fokus

Cerita yang efektif membutuhkan fokus yang jelas dan tegas. Tanpa fokus yang jelas, maka cerita akan melebar dan membosankan.

** Latar belakang yang memadai

Latar belakang memberikan konteks cerita. Supaya jelas kenapa menarik dan penting mengangkat suatu cerita.

Apakah dalam cerita sudah cukup jelas disampaikan siapa saja nara sumber yang ada?

Apakah konteks waktu sudah cukup jelas?

Apakah Anda tahu kapan dan di mana segala sesuatu yang terjadi dalam cerita itu terjadi?

Dalam tulisan dengan tema current affairs, maka seringkali tidak tersedia cukup waktu untuk melengkapi latar belakang seperti yang kita mau. Usahakan memberikan latar belakang yang cukup.

Kadang dalam penulisan, Anda seperti tersesat dalam naskah. Ini artinya Anda sudah kehilangan fokus cerita.

** Pikirkan kembali cerita Anda

Kenapa orang harus tertarik atau ingin mendengar cerita ini?
Bagaimana cerita ini bisa mempengaruhi pendengar?
Kepada siapa saya menyampaikan cerita ini?
Apakah saya bisa meringkasnya dalam beberapa kata?
Apa konsekuensi logis dari tulisan ini?
Detil apa yang dibutuhkan oleh pendengar untuk memahami cerita ini?
Bagaimana saya bisa membuat cerita ini lebih menarik dan memikat pendengar?
Bagaimana saya bisa menyampaikan sesuatu secara ringkas dan mudah dimengerti?
Apakah saya sudah mencantumkan fakta yang akurat?
Apakah saya sudah menulisnya secara jelas?
Apakah cerita ini membutuhkan latar belakang? Apakah itu sudah disediakan?

** Perencanaan Cerita

Merencanakan suatu cerita artinya membuat visualisasi cerita.

Ini seperti mengayuh sepeda di taman. Anda melihat pohon tua disebelah kiri, lalu lubang besar tak berapa jauh dari sana. Ada juga toilet umum di sebelah kanan, kolam kecil di sebelah kiri di mana dulu ditemukan mayat perempuan mengapung di sana beberapa tahun lalu. Pintu gerbang yang baru saja dilewati ada juga orang lain yang bersepeda. Ini adalah fakta yang tersedia untuk membangun cerita. Bayangkan bagaimana isi cerita Anda dari fakta-fakta ini.

Visualisasikan cerita Anda.

** Angle

Angle adalah titik mula cerita. Tanpa angle, kita tidak tahu apakah suatu cerita layak dituils atau tidak.
Angle adalah pemicu kita membuat tulisan.

Angle adalah sudut pandang yang dipakai untuk melihat suatu cerita.

Jika seekor anjing ditabrak mobil, ada banyak sudut pandang bagi seorang saksi mata:
– kecepatan mobil berkendara harus dikurangi
– pemilik anjing tidak bisa menjaga anjingnya dengan baik
– ah, kasihan sekali anjing itu
– ah, kasihan sekali si pengendara mobil
– syukurlah bukan saya tidak ikut ditabrak
– siapa peduli?

Tidak ada dua penulis yang akan membuat cerita dengan angle yang sama persis.

Angle adalah hal terpenting yang harus kita ingat selama proses pengerjaan tulisan: wawancara, mencari riset dan menulis. Tetaplah fokus pada angle yang sudah dipilih.

Ini bukan berarti tidak mungkin ada lebih dari satu angle dalam satu cerita. Bisa saja ada dua angle dalam satu cerita yang kompleks.

Anda menjual cerita lewat angle yang ditawarkan.

** Detil dalam tulisan radio

Anda tidak mungkin menulis cerita tanpa mengetahui detil seputar cerita tersebut. Cari tahu informasi-informasi paling penting dari cerita tersebut, buat daftar prioritas sebelum menulis.

Ingat: less is more.
Terlalu banyak detil akan membuat pendengar berhenti mendengarkan untuk berpikir. Ketika berpikir, pendengar tak lagi konsentrasi dengan apa yang Anda sampaikan.

Batasi apa yang ingin Anda sampaikan. Jangan terlalu ambisius.

Ketika menulis pengantar (cue), pikirkan alasan-alasan mengapa pendengar harus menyimak cerita tersebut.

Sumber:
Making Waves
Australian Broadcasting Corporation

Menulis Pengantar

Pengantar (cue) adalah bagian yang dibacakan penyiar sebelum menyimak berita atau feature yang ingin disampaikan. Umumnya, pengantar ini disandingkan dengan tulisan feature.

Selalu-selalu-selalu tulis pengantar terlebih dahulu. Pengantar bukanlah sesuatu yang dipikirkan belakangan, tapi menjadi bagian yang utuh dari tulisan. Pengantar memberikan gambaran kepada pendengar soal isi cerita – apa dan kenapa mereka harus mendengarkan. Pengantar juga memberi alasan bagi pendengar untuk bertahan.

Trik utama adalah jangan mengungkapkan semua isi cerita di pengantar karena mengurangi rasa ingin tahu keseluruhan isi cerita.

Sampaikan kalimat pertama yang terlintas di kepala soal isi cerita. Bayangkan Anda akan menyampaikan pengantar ini kepada seorang kawan.

Jika ada informasi yang bisa berubah, cantumkan di pengantar. Misalnya feature tentang korban gempa, di mana jumlah korban bisa terus bertambah bahkan setelah feature tersebut diproduksi.

Sumber: KBR68H

Tips Menulis Naskah (2)

Menulis untuk radio berarti menceritakan sesuatu. Anda sedang berbicara kepada seseorang, bukan menulis surat. Pendengar hanya berkesempatan mendengar cerita Anda s e k a l i, mereka tak bisa kembali ke bagian yang tak dimengerti. Karena itu, tulisan untuk radio harus jelas dan menggugah.

Gunakan bahasa percakapan. Jika Anda tidak akan mengatakan sesuatu dengan cara X, jangan tulis X.

Gunakan kalimat sederhana: satu gagasan, satu kalimat.

Hindari jargon atau kata/frase yang sulit, jika ini bisa dilakukan dengan cara yang sederhana.

Hindari anak kalimat karena sulit dimengerti. Jangan lupa, pendengar hanya punya kesempatan s e k a l i. Ingat juga, hanya ada satu gagasan dalam satu kalimat.

Ingatlah, seseorang akan membaca/membawakan naskah Anda. Secara baku, Anda akan menulis ‘Pukul 19’, tapi di dalam naskah lebih baik ditulis ’Pukul 7 malam’. Untuk angka, jangan lupa menyederhanakan angka supaya tidak terlalu detil.

Jangan terlalu banyak mencantumkan nama dan angka: membingungkan.

Upayakan menggunakan kalimat aktif daripada kalimat pasif karena terasa lebih ‘hidup’.

Hindari singkatan. Jika terpaksa menggunakan singkatan, maka jelaskanlah.  Misalnya, ketika menulis UNICEF, berikan penjelasan singkat berupa ‘Badan PBB untuk Anak-anak’.

Jangan berlebihan menggunakan kata sifat. Misalnya, ‘suasana mencekam’. Kata ‘mencekam’ itu sumir dan tidak jelas maksudnya. Lebih baik deskripsikan apa yang ingin kita maksud dengan kata ‘mencekam’, misalnya ‘Jalan dijaga oleh 100 polisi bersenjata lengkap.’ Ingat prinsip ‘show, don’t tell’.

Selalu jelaskan asal fakta yang digunakan dalam tulisan.

Jika menggunakan suara suasana alam, jangan ragu untuk menjelaskan suara tersebut. Tidak semua orang langsung mengerti suara apa yang sedang diperdengarkan. Misalnya memasukkan suasana mencuci piring, maka di naskah bisa ditulis ‘Setiap pagi, Tia selalu membantu ibunya mencuci piring.’

Cara terbaik untuk menguji naskah sudah cocok untuk telinga adalah dengan membacanya keras-keras. Ini membuat Anda bisa merasakan apakah ada kalimat yang tidak masuk akal, apakah kalimatnya sudah terdengar jelas atau tidak.

Sumber: BBC, KBR68H

Tips Wawancara

Selalu lakukan tes terlebih dahulu. Tes alat perekam. Tes level suara pewawancara dan nara sumber.

Jika pertanyaan yang diajukan diinterupsi, segera ajukan dan rekam ulang pertanyaan tersebut.

Minta nara sumber memperkenalkan diri sendiri di alat perekam. Misalnya ‘Saya Sita, PSK di Prumpung, Jakarta TImur. Saya mulai jadi PSK sejak usia 12 tahun.’ Pastikan informasi yang disampaikan cukup banyak. Ini bisa jadi alternatif cara memulai tulisan.

Jangan lakukan ‘hmmm’ atau ‘oh begitu ya’ dalam wawancara. Mengangguk saja, sebagai kode bagi nara sumber untuk melanjutkan cerita.

Dengarkan suara yang direkam. Jika nara sumber cenderung menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar, parafrasekan pertanyaan supaya mendapat jawaban yang diinginkan.

Waspada dengan penggunaan jargon atau singkatan. Misalnya nara sumber menyebut soal UNICEF, si pewawancara bisa menambahkan informasi bahwa ‘UNICEF, Badan PBB untuk Anak-anak’. Bisa juga dengan mengulang pertanyaan dan meminta nara sumber untuk tidak menyebut singkatan.

Sumber: KBR68H

Tips Menulis Naskah (1)

Prinsip 3C: clear, correct, concise

* Tentukan berapa panjang programnya. Berita untuk buletin berita biasanya berdurasi 2-3 menit.

* Dengan mengetahui durasi keseluruhan program, maka bisa ditentukan panjang dari tiap laporan berita. Kebanyakan orang bicara dengan kecepatan tiga kata dalam satu detik, sehingga panjang naskah untuk laporan 30 detik kira-kira sepanjang 90 kata.

* Pikirkan pendengar Anda, gunakan bahasa yang tepat dan sesuai.

* Tulislah sebagaimana Anda bicara. Tidak perlu menggunakan kalimat yang terlampau formal.

* Baca naskah keras-keras, cek bagaimana naskah itu terdengar di telinga.

* Jangan mengulang satu kata terlalu sering.

* Tulis kat apa pun yang sulit diucapkan (misalnya: revitalisasi). Sederhanakan.

* Buatlah naskah menjadi lebih hidup dengan menggunakan banyak kutipan wawancara dan klip audio. Jika hanya terdiri dari naskah yang dibacakan penyiar, akan terasa bosan.

* Ingat dengan struktur SPOK: siapa mengatakan apa. Jangan lupa cantumkan nara sumber.

Sumber:

BBC Training and Development

http://news.bbc.co.uk/2/hi/school_report/5275764.stm#6

Presentasi Naskah

Presentasi naskah adalah soal ‘menjahit’ sejumlah laporan menjadi satu kesatuan. Karena itulah naskah seringkali disebut sebagai ‘links’ (penghubung).

Setelah semua wawancara selesai dilakukan dan sudah dipilih bagian mana yang akan disiarkan, tiba saatnya menulis naskah dan merekam ‘links’-nya.

Ini adalah tips untuk presentasi naskah:

* Santai. Kecepatan suara dengan nada bicara yang natural akan terlalu cepat bagi pendengar yang ingin memahai semua yang Anda katakan.

* Buat semua kata berarti. Baca naskah dengan rasa percaya diri dan nyatakan setiap kata dengan kekuatan yang sama. Jangan kehilangan kekuatan suara di akhir naskah, atau menggumam bagian akhir kata.

* Berpura-puralah sedang berbicara kepada satu orang.

* Hindari tertawa yang dibuat-buat, akan terdengar aneh.

* Senyum. Saran ini mungkin terdengar aneh karena tidak ada yang melihat Anda, tapi ini membuat suara Anda jauh lebih ramah.

* Rekam ulang kalimat pembuka begitu kita sampai di akhir tulisan. Saat itu, suara kita sudah lebih tenang dan rileks sehingga mungkin terdengar lebih baik.

* Ingat, suara Anda sama baiknya dengan suara orang lain. Setiap orang yang bisa bicara perlahan dan jelas, bisa membawakan naskah, tak peduli apa jenis suara Anda.

Sumber:

BBC Training and Development

http://news.bbc.co.uk/2/hi/school_report/5275764.stm#6

Wawancara untuk Radio

Wawancara adalah bahan terpenting dari laporan radio. Wawancara bisa jadi inti dari tulisan, bisa juga salah satu bagian saja. Wawancara adalah kemampuan yang kompleks dan harus dipersiapkan demi memaksimalkan semua kesempatan wawancara yang ada. Begitu Anda dan nara sumber terpisah, tak ada lagi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan.

 

** Sebelum wawancara

 

PIkirkan kenapa penting untuk membuat wawancara dengan si nara sumber dan informasi apa yang ingin diketahui. Wawancara bukanlah percakapan, karena harus memiliki tujuan dan terstruktur.

 

Kerjakan PR sebelum wawancara: cari tahu jabatan, posisi dan latar belakang nara sumber.

 

Persiapkan nara sumber sebelum Anda mulai merekam. Ngobrollah supaya suasana tidak terlalu kaku. Jelaskan apa yang akan terjadi selama wawancara, informasi apa yang ingin digali serta siapa yagn akan mendengarkan hasil wawancara tersebut.

 

** Selama wawancara

 

Pegang kendali. Pastikan nara sumber duduk cukup dekat dengan mikrofon. Matikan semua suara latar belakang dan minta orang-orang yang ada di sekitar ruangan untuk tidak berisik. Waspada akan lalu lalang orang dan bantingan pintu. Jika tiba-tiba muncul suara pada bagian penting wawancara, jangan ragu untuk mengulang pertanyaan atau minta nara sumber mengulang jawaban.

 

Hindari mengajukan pertanyaan tertutup. Ada pertanyaan yang selesai dengan jawaban ’Ya’ atau ’Tidak’. Ajukanlah pertanyaan terbuka, dimulai dengan pertanyaan apa, siapa, di mana, kapan, kenapa dan bagaimana. Ini akan menghasilkan jawaban yang lebih utuh. Kemungkinan besar suara Anda dalam wawancara akan dipotong di hasil akhir tulisan, sehingga jawaban harus bisa masuk akal.

 

Dengarkan jawaban nara sumber. Nara sumber bisa jadi menjawab pertanyaan berikut, tanpa perlu Anda tanyakan.

 

Gunakan bahasa tubuh. Selalu bangun kontak mata dengan nara sumber dan biarkan mereka tahu bahwa Anda mendengarkan dengan serius.

 

Jangan ‘mmm’ atau ‘hmm’ atau ‘ya ya’ ketika nara sumber berbicara. Ini akan mengganggu konsentrasi pendengar dan membuat hasil wawancara sulit diedit.

 

Ingat tujuan wawancara. Apakah Anda hanya perlu klip berdurasi satu menit untuk digabungkan dalam naskah yang lebih panjang, atau Anda butuh wawancara 10 menit untuk program khusus? Jangan merekam materi terlalu banyak dari kebutuhan, atau Anda akan terperangkap membuang waktu untuk mengedit hasil wawancara.

 

Rekam suara nara sumber memperkenalkan diri sendiri dan jabatan/profesinya. Dengan begitu, Anda tahu persis siapa mereka ketika mendengarkan kembali hasil rekaman. Ini juga berguna untuk disajikan sebagai bagian dari tulisan.

 

Sebelum berpisah dengan nara sumber, cek hasil wawancara apakah sudah terekam atau belum. Ini sangat penting.

 

Sumber:

BBC Training and Development

http://news.bbc.co.uk/2/hi/school_report/5275764.stm#6

Merekam Vox Pop

Vox pop berasal dari bahasa Latin, vox populi, yang berarti ‘suara rakyat’

 

Vox pop adalah kumpulan opini tentang satu hal tertentu. Vox pop bukan wawancara, biasanya hanya terdiri dari satu pertanyaan, yang dijawab oleh sejumlah orang. Vox pop memberi ilustrasi apa yang dipikirkan orang tentang satu hal tertentu, misalnya pemerintah atau film terakhir yang dirilis. Pengambilan vox pop ini biasanya melibatkan ‘mencegat’ orang di tengah jalan/tempat umum dan mengajukan pertanyaan di tempat yang sama.

 

Pikirkan, di lokasi mana vox pop akan dilakukan. Suara latar belakang, seperti lalu lintas atau taman bermain, akan terdengar menarik, asal bisa dipastikan suara tersebut tidak terlalu berisik. Suara di latar belakang harus selalu konstan. Suara yang harus dihindari adalah suara pesawat, karena bunyinya akan keras, lalu melemah.

 

Rekam suara dengan variasi yang besar. Vox pop akan terdengar menarik jika itu melibatkan paduan antara suara laki-laki, perempuan, suara yang ringan dan berat, dari berbagai usia dan aksen/logat. Jika vox pop itu mengenai hal yang kontroversial, maka akan menarik jika mengambil opini dari orang-orang dari berbagai sudut pandang argumentasi (pro-kontra-netral).

 

Pilih topik dengan saksama. Harus tentang sesuatu hal di mana orang punya opini yang tegas. Misalnya, tidak cocok menanyakan soal perkembangan band musik terkini kepada orang-orang usia tua.

 

PIlih pertanyaan dengan saksama. Pertanyaan yang diajukan harus sederhana dan mudah dimengerti. Ingatlah untuk menanyakan setiap orang pertanyaan yagn sama, sehingga jika hasil rekaman diedit tanpa mengikutsertakan pertanyaan, jawabannya akan tetap masuk akal. Ajukan pertanyaan terbuka, dimulai dengan ’apa’, ’siapa’, ’di mana’, ’kapan’, ’bagaimana’, atau ’kenapa’ sehingga jawaban yang keluar bukan jawaban ya-tidak.

 

Targetkan mewawancara sedikitnya 10 orang.

 

Pastikan jawaban yang diberikan singkat. Cukup beberapa kalimat dari setiap orang.

 

Pastikan suara Anda tidak ada di dalam rekaman jawaban opini. Normalnya, suara reporter tidak muncul dalam vox pop, kecuali ketika menanyakan pertanyaan, umumnya di bagian awal. Tapi keseluruhan vox pop dibagnun berdasarkan jawaban-jawaban orang. Jika Anda bicara terlalu banyak, ini akan merepotkan proses pengeditan.

 

Saat merekam vox pop, pastikan alat perekam ada dalam kondisi RECORD/PAUSE. Rekam suara Anda sendiri tengah menanyakan pertanyaan yang bakal diajukan di vox pop pertama. Lalu geser tombol ke arah PAUSE. Saat akan mengajukan pertanyaan berikut, geser ke RECORD. Jengan begitu, Anda tak perlu mengedit perntanyaan terus menerus.

 

Jangan ragu untuk menanyakan detil jawaban lebih lanjut.

 

Jangan menyerah. Kadang orang terlalu sibuk atau terlalu pemalu untuk menjawab pertanyaan. Bersiaplah untuk mengalami penolakan.

 

Sumber:

BBC Training and Development

http://news.bbc.co.uk/2/hi/school_report/5275764.stm#6

Menggunakan Alat Perekam

Cek apakah alat perekam berfungsi dengan baik atau tidak sebelum mulai liputan.

Gunakan headphone selama mereka sehingga bisa dipastikan merekam secara baik, dan mengetahui secara cepat jika terjadi kesalahan.

Cek hasil rekaman sebelum meninggalkan nara sumber.

Catat nomor track rekaman dan isi singkat track tersebut. Mengetahui apa saja arsip rekaman yang dimiliki membantu proses pengeditan.

Beri label semua tape, soundcard dan minidisk.

 

Kebanyakan alat perekam memiliki batas rekaman otomatis. Tapi ada baiknya untuk selalu mengawasi pergerakan alat perekam supaya suara yang diambil tidak terlalu besar atau kecil. Mengarahkan mikrofon lebih dekat atau lebih jauh dari sumber suara/nara sumber akan membuat perbedaan.

 

Sumber:

BBC Training and Development

http://news.bbc.co.uk/2/hi/school_report/5275764.stm#6

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.